Garuda yang Bertengger di Puncak Seulawah

Oleh: Muhammad Irfan Alfarisi

Sejak Aceh diterpa konflik berkepanjangan antara GAM dan RI, banyak suku bangsa lain di Nusantara memandang Aceh dengan sebelah mata. Mereka menganggap Aceh hanya sebagai sekelompok manusia yang fanatik, pemberontak dan tidak loyal kepada negara. Mereka lupa bahwa Aceh pernah menyumbangkan nafasnya untuk menyambung perjuangan Indonesia pada masa perang revolusi kemerdekaan melawan agresi Belanda. Dari sekian banyak, salah satu sumbangan Aceh untuk Indonesia adalah menyediakan dana untuk membeli pesawat C-47 atau DC-3 dakota yang lebih dikenal dengan nama Seulawah-RI 001 dan seulawah-RI 002

Saat itu nasib bayi yang bernama Republik Indonesia ini benar-benar diujung tanduk. Belanda mulai melakukan blokade ekonomi seperti menguasai pelabuhan, perkebunan, pertambangan, dan menguasai kota-kota yang memiliki sumber ekonomi yang vital. Hal ini bertujuan memutuskan komunikasi dengan negara luar sehingga Indonesia benar-benar semakin terisolir dan menyebabkan kelumpuhan urat nadi perekonomiannya. Melihat kondisi yang semakin gawat, pada tanggal 15 juni 1948 Bung Karno bersama Dr. Sukiman yang menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri bertolak ke Aceh.

Pesawat RI 001 Seulawah di Blang Padang, Banda Aceh

Dalam kesempatan ini Sukarno berpidato berapi-api guna mengambil simpati rakyat Aceh untuk membantunya berjuang memenangkan perang revolusi ini. Rakyat Aceh yang memang sangat membenci Belanda semakin seperti orang kesurupan, tergugah semangatnya tak terkira setelah mendengar orasi Bung Karno. Rakyat aceh bersumpah setia kepada Sukarno dan siap mengorbankan apa saja untuk mengusir Belanda dari persada Nusantara.

Selain itu, Bung Karno juga mengusulkan untuk membeli sebuah pesawat angkut yang sangat berguna dalam melestarikan perjuangan kemerdekaan Indonesia dan meminta kepada rakyat Aceh untuk mengumpulkan dan menyediakan dananya. Usul tersebut ditanggapi positif dan disanggupi oleh rakyat Aceh. Diprakarsai oleh seorang saudagar yang bernama M. Djuned Joesoef, saat itu juga terkumpul dana yang cukup besar melebihi dari yang diharapkan beserta emas sumbangan rakyat Aceh.

Saat kembali ke Yogyakarta, Bung Karno telah mengantongi cek sebesar 140.000 dollar singapura seharga pesawat dakota C47 plus mesin cadangnya. Selanjutnya residen Aceh memberikan lagi cek sebesar 120.000 Dollar Singapura. Pesawat ini memegang peranan penting dalam meneruskan perang menghadapi agresi Belanda dan menjadi modal pertama dalam menjalin hubungan antara pemerintah pusat di Yogyakarta-PDRI Sumatera Barat dan Kutaraja beserta menjalin hubungan dengan luar negeri karena ketatnya blokade Belanda. Selain itu, Seulawah 001 menjadi inisiator pertama dalam usaha merintis penerbangan sipil di Indonesia yaitu Indonesian Airways.

Maskapai Garuda Indonesia Mendarat di Bandara Sultan Iskandar Muda

Pesawat sumbangan rakyat Aceh ini juga menjadi perintis terbelinya dua pesawat dakota lagi yaitu RI-007 dan RI-009. Juga membantu keuangan staf-staf RI di Burma, India dan Pakistan serta bisa membiayai siswa-siswi AURI yang sedang belajar di luar negeri. Saat itu, untuk mengelabui dari incaran musuh seulawah 001 beralih tugas dari pesawat militer menjadi pesawat komersil yang disewa oleh Union Of Burma Airways. Keuntungan finansial yang diperoleh dari penyewaan pesawat tersebur begitu banyak membantu Indonesia pada masa-masa sulit perang.

Dalam mengabadikan perjuangan dan jasa Seulawah 001 selama perang revolusi kemerdekaan, sebuah monumen gagah replika pesawat ini didirikan di Lapangan Blang Padang Banda Aceh, sebagai pengingat bukti bakti rakyat Aceh kepada Indonesia. Mengutip sebuah isi pidato Bung Karno : “Negara kita dalam keadaan gawat, pihak Belanda terus mendirikan negara-negara bonekanya di pulau Jawa dan Sumatera. Ruang gerak kita dipersempit dan sekarang hanya daerah Aceh satu-satunya wilayah Rl masih utuh yang tidak diduduki militer Belanda. Aceh menjadi penting sebagai alternatif satu-satunya yang menentukan kedudukan dan cita-cita bangsa lndonesia. Karena itulah saya namakan Aceh sebagai Daerah Modal, modal untuk melanjutkan perjuangan dan cita-cita kemerdekaan yang diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945.”